Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 November 2016
Doctor Strange Rajai Tangga Box Office Selama 2 Pekan
JELAJAH - Film Doctor Strange kembali merajai tangga box office akhir pekan lalu pada periode 11 sampai 13 November 2016. Dilansir dari data Box Office Mojo, film buatan Disney/Marvel ini berhasil meraup USD43 juta atau setara Rp574,7 miliar!
Meskipun sempat turun, namun pendapatan Doctor Strange masih unggul 18,6 persen dibanding film yang menjadi urutan kedua, yaitu Trolls yang meraih USD35 juta. Hal ini seperti mengulang pekan lalu, ketika Doctor Strange dan Trolls bersama-sama menguasai tangga box office pada pekan perdana penayangannya.
Secara total, Doctor Strange sudah mengumpulkan USD153 juta dari pasar domestik Amerika Serikat. Jika digabungkan dengan pendapatan dari seluruh dunia, film yang masuk dalam semesta Marvel Cinematic Universe (MCU) ini sudah meraih USD492,6 juta.
Apa yang menyebabkan film yang dibintangi Benedict Cumberbatch ini mampu menghasilkan begitu banyak uang hanya dalam waktu dua pekan?
Salah satu jawabannya adalah kesegaran ide yang diusung oleh Doctor Strange. Jika film MCU lain cenderung berbau fiksi ilmiah dengan adanya alien dan teknologi canggih, Doctor Strange memasukkan unsur mistis, sihir dan kanuragan, sembari tetap menggunakan unsur fiksi ilmiah.
"Doctor Strange sama menghiburnya dengan film Marvel lain. Namun yang membuatnya unik adalah film ini jauh lebih 'berani' dibandingkan film Marvel lainnya," tulis Chris Nashawaty dari Entertainment Weekly.
Spesial efek mumpuni juga menjadi salah satu nilai jual Doctor Strange.
"Kaleidoskop keanehan dan spesial efek nan inovatif menjadi kunci kesuksesan Marvel dalam memperkenalkan Doctor Strange, film aneh yang digarap oleh sutradara/penulis naskah Scott Derrickson dengan brilian," puji Brian Truitt dari USA Today.
Penulis : Risky Candra
Jumat, 14 Oktober 2016
Review : The Accountant, Si Akuntan Autis Yang Di Cari Banyak Orang
JELAJAH -- Jangan tertipu dari judul film yang satu ini: The Accountant. Yup sekilas mungkin kalian akan berpikir kalau film ini adalah film yang membosankan kan? Eits, tunggu dulu! Film arahan sutradara Gavin O’Connor ini berkisah soal Christian Wolff (Ben Affleck), seorang akuntan publik yang tidak biasa. Ia memiliki beragam nama alias dan bekerja untuk berbagai organisasi kriminal berbahaya, dan lagi Wolff juga seorang autis.
Christian Wolff (Ben Affleck) adalah seorang akuntan yang mengidap autisme. Autisme membuat Christian menutup diri dari dunia luar. Ia selalu sendiri dan sulit berkomunikasi dengan orang lain. Autisme juga membuat Christian memiliki kebiasaan unik yang harus ia kerjakan hingga selesai. Di balik itu semua, autisme ternyata memberi Christian kemampuan khusus. Ia fokus sehingga mudah menghafal angka berapapun jumlahnya. Ini ditambah dengan kemampuan bela diri, hasil didikan militer ayah Christian (Robert C. Treveiler). Kemampuan tersebut menjadikan Christian sebagai orang kepercayaan para penjahat kelas kakap untuk mengatur keuangan mereka. Ia dikenal dengan sebutan Sang Akuntan.
Sepak terjang Sang Akuntan membuat sebuah perusahaan manufaktur robot, Living Robotics tertarik. Mereka menyewa Christian untuk menyelidiki dugaan korupsi dalam perusahaan. Sayang, penyelidikan ini tidak berjalan mulus. Ada seorang penjahat misterius (Jon Bernthal) yang tidak suka jika keuangan perusahaan diselidiki. Selain itu, aksi Sang Akuntan juga menarik perhatian Ray King (J.K. Simmons) dan Marybeth Medina (Cynthia Addai-Robinson), agen Departemen Keuangan. Keterlibatan orang-orang ini ternyata ada hubungannya dengan masa lalu Christian.
The Accountant sejujurnya memiliki tema cerita menarik. Kisah seseorang berkebutuhan khusus dengan kelebihan di bidang lain bisa digali lebih dalam. Sejumlah adegan aksi juga ditampilkan dengan harapan bisa membuat kisah The Accountant menjadi lebih seru.
Ssst ada sepenggal Jakarta lho dalam film ini. Penasaran kan, kok bisa sih Jakarta masuk scene dalam film ini? Hmmm.. tunggu apalagi segera tonton film ini di bioskop kesayangan kalian ya!
Penulis : Risky Candra
Review : Memecahkan Teka-Teki Film A Monster Calls
JELAJAH -- Film A Monster Calls yang merupakan adaptasi dari novel milik Patrick Ness yang jauh dari kesan ceria. Menghadirkan tema low fantasy, yang berarti batasan-batasan antara dunia nyata dan fantasi terasa kabur tanpa ada penjelasan rasional tentang sebab akibatnya membuat narasi A Monster Calls sehingga membuat film ini terasa lebih kompleks untuk disantap para penonton muda. Apalagi ia memuat cerita tentang pencarian jati diri seorang bocah 12 tahun yang harus berjibaku dengan dirinya sendiri yang tengah gundah karena sang ibu tercinta tengah sekarat karena kanker ganas.
Dilansir dari movienthusiast, menjelaskan bahwa kesimpulan dasar film ini memang terlihat sederhana dan terkesan cengeng, tetapi A Monster Calls kemudian menjadi spesial ketika elemen fantasinya bekerja dengan baik. Film ini mampu masuk ke dalam dunia nyata dalam wujud monster pohon raksasa yang disuarakan oleh Liam Neeson. Sang Monster datang setiap tengah malam untuk menceritakan masing-masing tiga cerita kepada Conor O’Malley (Lewis MacDougall), sang bocah malang yang harus menghadapi situasi sulit di usianya yang masih sangat belia. Hampir setiap hari ia diganggu teman sekolahnya, sepulang sekolah ia harus menerima kenyataan menyakitkan melihat ibunya (Felicity Jones) berjuang menghadapi kanker stadium akhir. Sementara sang ayah (Toby Kebbell) memilih untuk tinggal jauh darinya. Yang tersisa hanya sang nenek (Sigourney Weaver) yang tidak disukainya.
Perpaduan dark fantasy, drama pendewasaan diri/coming of agedan muatan-muatan tema tentang cinta, duka, kehilangan dan kesendirian tentu saja menjadikan A Monster Calls bukan jenismonster movie yang bisa ditonton untuk bersenang-senang. Dengan materi “berat” seperti itu A Monster Calls sedikit banyak mengingatkan pada Pan’s Labyrinth-nya Guillermo del Toro yang sama suram dan pahitnya. Hubungan tak biasa antara sosok monster dan Conor tentu menjadi pusat gravitasi buat A Monster Calls. Melihat bagaiamana kombinasi penyutradaraan lembut Bayona dan Patrick Ness yang ditunjuk untuk mengurus naskahnya mampu bersinergi dengan sempurna dalam usahanya mengeksplorasi sisi terdalam sang bocah dalam menghadapi problematikanya yang diwakili melalui dongeng-dongeng depresif yang diceritakan si monster pohon. Setiap cerita berhasil divisualisasikan oleh presentasi cantik animasistop-motion dengan setuhan gaya cat air penuh imajinasi, dalam film ini juga punya pesan-pesan kuat yang merepresentasikan kehidupan Conor, dan menjadi sangat penting dalam usaha Bayona menguatkan kepribadian Conor, membangun emosi, mengerti dan bersimpati dengan Conor sampai kemudian Bayona membawa hati penontonnya hancur di klimaksnya sebelum disembuhkan kembali oleh sebuah ending yang manis.
Kudos buat penampilan apik Lewis MacDougall yang sukses menjadi jiwa dan hati buat A Monster Calls sementara Liam Neeson tampil sama hangat dan angker melalui suara beratnya sebagai sang Monster. Felicity Jones dan Sigourney Weaver mungkin tidak terlalu banyak dieksplorasi mengingat Bayona seperti ingin mengambil semuanya dari sudut Conor dengan cara padang bocah 12 tahun, membiarkan para orang dewasanya hanya sekedar menjadi bagian konflik yang terdengar dan terlihat sekilas. Bayona seperti membawa kita kembali ke masa kecil di mana terkadang kita merasa tak aman dan takut tanpa pernah benar-benar mengetahui bagaimana cara menghadapinya.
Dalam film ini akan menggambarkan bagaimana Bayona sukses memberikan batasan abu-abu antara kenyataan dan imajinasi. Pertanyaan yang muncul adalah apakah monster itu nyata atau hanya sekedar ada di kepala Conor yang merupakan proyeksi dari alam bawah sadarnya yang berfungsi memperingati sekaligus melindunginya? Ada petunjuk di sana, tetapi semua kembali kepada penontonnya untuk memutuskan, toh, pada akhirnya benar atau tidak, nyata atau sekedera imajinasi semua ceritanya kembali kepada bagaimana sosok bocah 12 tahun menghadapi kenyataan hidup yang pahit, bagaimana ia mencari jati dirinya melalui cara yang tidak biasa, bagaimana ia kemudian berdamai dengan lingkungan dan dirinya sendiri.
Hm.. Penasaran kan dengan teka-teki film ini? Ayo segera tonton film A Monster Calls yang mendapatkan ratting sebanyak 7.9/10 di IMDB guys!
Penulis : Risky Candra
Referensi : Movienthusiast
Senin, 10 Oktober 2016
The Girl on the Train Jadi Film Terlaris Di AS
JELAJAH -- Ekranisasi The Girl on the Train tak terhalang sebagai pemuncak daftar film terlaris di Amerika Serikat periode 7-9 Oktober 2016. Kehadiran film yang dibintangi Emily Blunt itu menggusur Miss Peregrine's Home for Peculiar Children arahan Tim Burton dan beberapa pendatang baru lainnya.
Versi novel kisah tersebut yang ditulis Paula Hawkins juga langsung memuncaki daftar"The New York Times Fiction Best Sellers of 2015" pada debut penjualannya.
Selama tayang di 3.144 lokasi, The Girl on the Train meraup USD24,6 juta (Rp319 miliar). Pendapatan tersebut agak meleset dari prediksi USD35 juta. Sementara Miss Peregrine'sharus puas hanya menambah USD15 juta dari hasil penayangan di 3.705 lokasi.
Dua film berstatus pendatang baru lainnya; The Birth of a Nation (Fox Searchlight) danMiddle School: The Worst Years of My Life (CBS Films/Lionsgate), gagal menembus peringkat lima besar.
"Ini bukan sebuah hasil yang mengecewakan. Terima kasih kepada CinemaScore yang telah memberi nilai A. Bagi kami, itu sebuah pegangan yang layak," ujar Kepala Distribusi Fox Searchlight Frank Rodriquez kepada Hollywood Reporter.
Dalam laman web CinemaScore yang berisi hasil survei penonton, The Birth of a Nation yang dibuat dengan ongkos USD10 juta mendapatkan nilai A. Mengungguli penilaian terhadapThe Girl on the Train (B-) dan Middle School: The Worst Years of My Life (A-).
Pun dalam situs web Rotten Tomatoes, konsensus yang datangnya dari para kritikus menghasilkan angka 79 persen. Berbanding 44 persen bagi The Girl on the Train dan Middle School: The Worst Years of My Life yang mendapat 55 persen.
Film The Girl on the Train yang disutradarai Tate Taylor berkisah tentang seorang alkoholik bernama Rachel (Blunt) yang hidup merana setelah bercerai dengan suaminya, Tom Watson (Justin Theroux). Setiap hari dia naik kereta api menuju tempatnya bekerja di New York.
Rute kereta api tersebut selalu melewati rumah lamanya. Di rumah tersebut, Tom kini tinggal bersama istri barunya, Anna (Rebecca Ferguson).
Selama perjalanan di kereta, Rachel gemar memperhatikan orang-orang, kemudian membuat cerita sendiri di kepalanya tentang keluarga harmonis. Ia terobsesi dengan suami istri yang jadi tetangganya, Scott Hipwell (Luke Evans) dan Megan Hipwell (Haley Bennet).
Melalui jendela kereta api pula Rachel menyaksikan Megan yang berada dalam sebuah terowongan tiba-tiba lenyap tanpa jejak.
Rachel yang jiwanya terganggu tak menyadari bahwa insiden tersebut melibatkan begitu banyak orang di sekelilingnya, mulai dari Tom dan Anna, Scott, hingga psikiater Dr. Kamal Abdic (Edgar Ramirez).
Melihat materi yang dikandungnya, film bergenre misteri thriller drama itu tampaknya bakal senasib dengan ekranisasi Gone Girl (2014). Urung tayang di jaringan bioskop tanah air karena tidak lulus sensor.
Di negara asalnya, The Girl on the Train dan Gone Girl memang mendapat "Rating-R (Restricted)" atau terlarang bagi penonton di bawah usia 17 tahun menonton sendiri tanpa didampingi orang dewasa.
Pemberian Rating-R karena filmnya mengandung kekerasan berdarah, memuat adegan seksual/telanjang yang tampak jelas, serta dialog yang terdiri dari kata-kata makian kasar.
Hmmm.. Apa kalian tertarik untuk menonton film ini?
Penulis : Risky Candra
Review Film : Pinky Promise, Ketika Janji Memilih Warnanya Sendiri
JELAJAH - 'Kematian adalah hadiah terindah dalam setiap hidup manusia'.
Pesan itu selalu terngiang di telinga Kartika Rahayu (Agni Pratistha) ketika mendengarkan pesan terakhir yang direkam sebelum kematian Tante Anind (Ira Maya Sopha). Penyakit kanker payudara memang telah mengakhiri hidup Tante Anind. Namun, ini menjadi sentakan bagi Rahayu untuk membuka mata dan membuka lembaran baru usai gagal bertunangan.
Di tengah kerisauan itu, Rahayu pun mendapat sebuah 'warisan' yang mengubah rasa pesimisnya tentang cinta. Rumah Pink, telah disiapkan Tante Anind sebagai tempat berkumpulnya penderita kanker. Dari situ juga ia menemukan Ken (Dhea Seto), Vina (Dea Ananda), dan Baby (Alexandra Gottardo). Sekumpulan wanita yang bernasib serupa, penderita kanker stadium lanjut.
Ironi tersebut terjalin dengan janji kelingking berbalut warna merah muda. Yang berarti, siap untuk terus bersama hingga maut yang memisahkan. Rahayu pun meladeni upaya Ken, Vina dan Baby untuk sembuh.
"Sampai kapan pun kita pegang janji ini, janji pink," ucap mereka kompak.
Namun, sebagai satu-satunya wanita yang tidak mengidap kanker, Rahayu dianggap berkhianat. Ia merasa naif jika harus berpura-pura peduli. Wajar, sejak awal Rahayu tegas menolak warisan Rumah Pink, lantaran peresmiannya dilakukan saat dirinya gagal bertunangan. Rahayu pun terpaksa menjalani hidup dengan kepura-puraannya itu, sambil terus merengut dalam hati.
Konflik kewanitaan dalam film bertajuk Pink Promise ini cukup sukses diperlihatkan sang sutradara, Guntur Soeharjanto. Dengan latar belakang berbeda, Vina istri satpam yang hidup pas-pasan, Ken mahasiswi yang kurang perhatian orangtua, serta Baby bunga desa yang jadi wanita simpanan, mampu menghasilkan debat emosi khas wanita. Semua terekam sempurna dan mampu menggugah empati penonton.
"Ini bisa dibilang film saya yang paling girly. Sebuah film tentang perjuangan perempuan, semoga bisa bikin orang mengerti bagaimana jika terjadi pada dirinya sendiri," kata Guntur Soeharjanto.
Klimaks film ini baru terjadi ketika janji pink itu mulai goyah. Keganasan kanker mulai menjadi ujian Vina, Ken dan Baby. Semuanya bingung menentukan warna apa yang akan mereka pilih untuk merealisasikan janji setianya.
"Ceritanya sangat emosional sekali. Apalagi ketika kami semua harus botak. Saat aku botakin kepala Dea (Seto) saya menangis beneran. Terbayang gimana penderita yang benar-benar merasakan hal itu," ucap Agni Pratistha.
"Rasanya berat ketika harus kehilangan mahkota wanita kita (rambut). Tapi aku puas, karena semuanya terbayar," Dea Seto menimpali.
Lantas, apa warna janji yang akan mereka pilih? Apakah tetap seindah merah muda untuk terus berjuang? Atau justru mengibarkan warna putih untuk menyerah?
Film Pinky Promise tayang serentak di bioskop pada 13 Oktober 2016. Film hasil rumah produksi MP Pro Pictures ini dibintangi para bintang muda seperti Agni Pratistha, Dea Ananda, Dea Seto, Alexandra Gottardo, Chelsea Islan, Ira Maya Sopha, Ringgo Agus Rahman dan Derby Romero.
Ayo jangan sampai kelewatan para sobat penjelajah!
Penulis : Risky Candra
Sumber : Liputan 6















